Inflasi AS Naik ke 3,7%, Harga Bitcoin Turun $1.000: Apa Dampaknya Jelang Rapat The Fed?

Ringkasan: Inflasi konsumen AS (CPI) naik ke 3,7% secara tahunan pada September 2026, dari 3,4% di Agustus dan di atas perkiraan 3,6%. Bitcoin turun dari $83.841 ke $82.665 setelah data rilis. Peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga pada rapat 27-28 Oktober ikut menguat.
Data inflasi AS kembali di atas perkiraan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen (CPI) naik 3,7% secara tahunan pada September 2026.
Angka ini naik dari 3,4% pada Agustus dan melampaui perkiraan ekonom sebesar 3,6%. Data dirilis pada 14 Oktober 2026 pukul 08.30 waktu New York atau 19.30 WIB.
Pasar kripto langsung bereaksi. Bitcoin turun sekitar $1.000 tidak lama setelah data keluar.

Seberapa Panas Inflasi AS September 2026?
Secara bulanan, harga naik 0,6%, lebih tinggi dari 0,4% pada Agustus. Harga bensin naik 9,1% dalam sebulan dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan, menurut data yang dikutip KuCoin News.
Inflasi inti, yang tidak menghitung harga pangan dan energi, naik ke 2,6% secara tahunan dari 2,4%. Angka ini juga di atas perkiraan 2,5%, dengan kenaikan merata dari mobil bekas, tiket pesawat, layanan kesehatan, hingga pakaian.
Pasar obligasi ikut bergerak. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun naik 0,10 poin persentase ke 4,90%, sementara tenor 10 tahun naik ke 5,29%. Imbal hasil yang lebih tinggi membuat obligasi lebih menarik dibanding aset berisiko.
Indikator | Agustus 2026 | September 2026 | Perkiraan |
|---|---|---|---|
CPI tahunan | 3,4% | 3,7% | 3,6% |
CPI bulanan | 0,4% | 0,6% | 0,6% |
CPI inti tahunan | 2,4% | 2,6% | 2,5% |
Sumber: Biro Statistik Tenaga Kerja AS via Bitbo dan KuCoin News.

Bagaimana Reaksi Harga Bitcoin?
Bitcoin turun dari $83.841 sebelum rilis menjadi $82.665 setelahnya, atau sekitar $1.176, menurut Bitbo. Sebelumnya, Bitcoin sempat mendekati $84.000 tetapi gagal bertahan di atas level itu.
Tekanan sebenarnya sudah terasa sejak awal Oktober. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sempat menembus 5,35% pada 12 Oktober, dan Bitcoin turun 3,8% sepanjang pekan 3-9 Oktober, menurut Kayonews.
Utkarsh Ahuja, pendiri Moon Pursuit Capital, menilai inflasi yang tinggi bisa menahan imbal hasil obligasi, memperkuat dolar, dan menaikkan biaya modal. Kombinasi ini menjadi hambatan bagi kripto dan aset pertumbuhan lainnya.
Apa Dampaknya Jelang Rapat The Fed?
The Fed sudah menaikkan suku bunga 0,25 poin persentase ke 3,75%-4,00% pada 16 September. Rapat berikutnya digelar 27-28 Oktober 2026.
Sebelum data inflasi keluar, peluang kenaikan suku bunga di rapat itu sekitar 22% menurut CME FedWatch. Setelah data rilis, kontrak berjangka suku bunga menunjukkan peluangnya naik ke sekitar 40%, seperti dilaporkan Reuters via Kalshi News.
Ekonom Oxford Economics Nancy Vanden Houten memperkirakan The Fed kembali menaikkan suku bunga bulan ini. Robin Brooks dari Brookings Institution menilai kenaikan tetap mungkin, meski waktunya berdekatan dengan pemilu sela AS pada 3 November.
Bagi investor dana kripto, gejolak di sekitar rilis data seperti ini bagian dari pasar yang buka 24 jam. NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A dilengkapi Risk Scoring Engine yang memantau volatilitas dan pergerakan pasar setiap hari, sehingga investor tidak perlu begadang menunggu data AS.
Pandangan kami: Penurunan $1.000 terlihat besar, tetapi sumber inflasinya lebih penting untuk dicermati. Lebih dari separuh kenaikan datang dari bensin, sementara inflasi inti 2,6% masih jauh di bawah angka utama. Jika harga energi mereda, tekanan ke The Fed bisa ikut berkurang. Karena itu, data inflasi produsen (PPI) yang rilis 15 Oktober jadi petunjuk berikutnya bagi arah Bitcoin.
NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A, Investasi Kripto Dikelola Profesional
Investasi kripto yang dikelola profesional tanpa ribet kelola wallet dan seed phrase sendiri. Risk Scoring Engine membantu memantau volatilitas dan pergerakan market setiap hari untuk keputusan investasi yang maksimal, sehingga kamu dapat berfokus pada kegiatan sehari-hari.
- Portofolio terdiversifikasi Bitcoin (50%), Ethereum (30%), Solana (20%)
- Dinyatakan lulus Regulatory Sandbox OJK (Surat OJK No. S-254/IK.01/2026)
- Dilengkapi Risk Scoring Engine untuk memantau pasar 24 jam
- Mulai dari Rp100.000
Mulai investasi kripto yang #SemudahItu bersama NOBI Dana Kripto
Tentang NOBI Dana Kripto
NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia. PT Dana Kripto Indonesia dinyatakan lulus dari Sandbox OJK berdasarkan surat OJK no. S-254/IK.01/2026.
Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan hasil di masa mendatang.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
Berapa inflasi AS September 2026?
CPI AS naik 3,7% secara tahunan pada September 2026, dari 3,4% di Agustus. Angka ini di atas perkiraan ekonom sebesar 3,6%.
Kenapa harga Bitcoin turun setelah data inflasi AS?
Inflasi yang lebih tinggi menaikkan peluang The Fed menaikkan suku bunga. Suku bunga dan imbal hasil obligasi yang naik membuat aset berisiko seperti Bitcoin kurang menarik dalam jangka pendek.
Kapan rapat The Fed berikutnya?
Rapat The Fed berikutnya digelar 27-28 Oktober 2026, dengan keputusan suku bunga diumumkan pada 28 Oktober waktu AS.
Apa itu dana kripto?
Dana kripto adalah produk investasi kolektif yang menghimpun dana dari para pemegang Unit Kripto untuk diinvestasikan ke berbagai aset kripto oleh Manajer Dana Kripto. Cara kerjanya mirip reksa dana, dengan underlying berupa aset kripto.
Apa Risiko Investasi Dana Kripto?
Seperti instrumen investasi lainnya, dana kripto memiliki risiko yang perlu dipahami investor. Nilai Unit Kripto dapat turun mengikuti volatilitas harga aset kripto. Strategi pengelolaan seperti Risk Scoring Engine bertujuan membatasi penurunan, namun tidak menghilangkan risiko kerugian. Investor juga perlu mempertimbangkan risiko likuiditas pasar, risiko teknologi dan keamanan siber, serta risiko perubahan regulasi. Karena itu, investor disarankan membaca prospektus NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A secara lengkap sebelum berinvestasi.
Apakah dana kripto aman?
Dana kripto tetap memiliki risiko penurunan nilai mengikuti harga aset kripto. Aset disimpan di kustodian aset keuangan digital dan pengelolaannya diawasi OJK, namun investor tetap perlu membaca prospektus sebelum berinvestasi.
Tag Artikel


