logo nobi dki
Tentang KamiProduk KamiNewsHubungi Kami
Sign UpLog In
← Kembali ke News
Laporan Kinerja

Laporan Kinerja Oktober 2026: NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A

NOBI Editorial
·4 November 2026·9 menit baca
Laporan Kinerja Oktober 2026: NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A

Ringkasan Performa NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A

Sepanjang bulan Oktober 2026, NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A menghadapi kondisi pasar kripto yang menantang. Optimisme di awal bulan, yang didorong oleh melemahnya data tenaga kerja AS dan kenaikan target harga Bitcoin oleh Citigroup, berangsur memudar seiring arus keluar ETF spot Bitcoin, sinyal kenaikan suku bunga lanjutan dari The Fed, serta inflasi AS yang berada di atas ekspektasi. Tekanan memuncak di akhir bulan ketika insiden keamanan pada hot wallet Binance memicu aksi jual di pasar kripto global. Alhasil, Nilai Aset Bersih Dana Kripto (NABDK) per Unit Kripto terkoreksi 9,86% menjadi Rp902,42 dari posisi akhir September sebesar Rp1.001,11. Penurunan ini lebih terbatas dibandingkan strategi buy & hold yang turun 10,19%.

Analisis Dinamika Pasar

Memasuki minggu pertama, data tenaga kerja AS yang dirilis 2 Oktober melemah tajam (hanya 29 ribu lapangan kerja baru vs. ekspektasi sekitar 90 ribu, dengan tingkat pengangguran naik ke 4,2%), sehingga peluang kenaikan suku bunga The Fed pada rapat Oktober turun dari sekitar 70% menjadi 15–20%, yang memberikan sentimen positif bagi aset berisiko. Pada 1 Oktober, Citigroup juga menaikkan target harga BTC 12 bulan sebesar 37,8% menjadi US$113.000 (~Rp2 miliar), dengan alasan aktivitas pasar kripto yang menguat dan kembalinya arus masuk ETF. BTC merespons positif dan ditutup di Rp1.530.487.000 pada 7 Oktober.

Pada minggu kedua, sentimen berbalik: ETF BTC spot di AS mencatat arus keluar lebih dari US$700 juta pada 7–8 Oktober, termasuk US$487,07 juta pada 7 Oktober, terbesar sejak 25 Juni. Notulen rapat The Fed September menunjukkan mayoritas pejabat memperkirakan satu kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang bertahan di level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, sehingga menekan aset berisiko. BTC ditutup di Rp1.465.380.000, melemah 4,25% secara mingguan.

Memasuki minggu ketiga, inflasi (CPI) AS September yang dirilis 14 Oktober naik ke 3,7% secara tahunan (di atas ekspektasi 3,6%), menjaga peluang kenaikan suku bunga lanjutan dan menekan BTC hingga sempat menyentuh Rp1.435.965.000. Sentimen membaik setelah ETF BTC mencatat arus masuk US$527 juta pada 19 Oktober, dan BTC menembus Rp1.524.523.000 pada 21 Oktober seiring reli saham teknologi dan short squeeze.

Di minggu terakhir, reli tersebut memudar dan BTC bergerak konsolidasi menjelang FOMC, sempat menyentuh Rp1.444.500.000 sebelum memantul. The Fed menahan suku bunga di 3,75–4,00% pada 28 Oktober, dan Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberi sinyal jelas soal kenaikan di Desember. Pada 30 Oktober dini hari WIB, dana sekitar US$5,6–5,9 miliar terkuras dari hot wallet Binance, sehingga BTC jatuh hingga ke level Rp1.425.000.000. Tether dan Circle membekukan lebih dari US$2,4 miliar di antaranya, dan Binance berkomitmen menanggung seluruh kerugian pengguna. BTC terus melemah hingga ditutup di Rp1.416.487.000 pada akhir Oktober, turun 6,69% dari penutupan minggu sebelumnya.

Analisis Teknikal Bulanan BTC/USD

Berdasarkan pengamatan struktur pasar pada grafik mingguan (1W), pergerakan Bitcoin sepanjang periode Oktober menunjukkan fase konsolidasi yang terukur setelah mengalami fluktuasi sebelumnya. 

Secara struktural, pergerakan harga Bitcoin terpantau mulai membentuk pola saluran menanjak (ascending channel) yang dibatasi oleh dua garis trend paralel berwarna merah. Di dalam pembentukan struktur ini, pergerakan harga cenderung bergerak mendatar (sideways) dalam rentang terbatas sebagai bagian dari fase akumulasi dan penyeimbangan kembali antara tekanan beli dan jual.

Saat ini, posisi harga Bitcoin sedang menguji dan berada tepat di atas area permintaan (demand zone) horizontal yang cukup solid (ditandai oleh kotak abu-abu di kisaran $77.000 – $78.700). Area ini juga berhimpitan dengan indikator Moving Average (MA 20 di $77.052 dan MA 50 di $78.584), yang memberikan konfluensi support cukup kuat untuk menahan tekanan penurunan harga lebih lanjut untuk sementara waktu.

Meskipun area demand saat ini mampu menahan laju penurunan sementara, risiko pelemahan jangka pendek tetap perlu diwaspadai. Apabila tekanan jual meningkat dan menembus area support saat ini, masih terdapat peluang bagi Bitcoin untuk mengalami koreksi lebih lanjut guna menguji batas bawah garis tren saluran (lower band trend) serta area support di bawahnya (sekitar $67.779 pada MA 200 hingga zona demand berikutnya) sebelum melanjutkan tren kenaikannya.

Disiplin Strategi di Tengah Volatilitas

Meski pasar didominasi sentimen eksternal, pengelolaan aktif berbasis sinyal tren kuantitatif tetap memberikan nilai tambah, dengan kinerja 0,33 ppt lebih baik dibandingkan strategi buy & hold. NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A konsisten menjalankan strategi alokasinya dan tidak bereaksi berlebihan terhadap guncangan berita jangka pendek, mulai dari rilis data makro dan notulen The Fed hingga insiden Binance. Seluruh aset dana disimpan di kustodian dan ditransaksikan melalui pedagang aset kripto berizin di Indonesia, sehingga dana tidak memiliki eksposur langsung terhadap insiden tersebut. Ke depan, NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A akan terus mengikuti sinyal tren secara terukur sambil mencermati arah kebijakan The Fed menjelang FOMC 8–9 Desember, agar portofolio siap menangkap peluang ketika momentum pasar kembali pulih.


NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A, Investasi Kripto Dikelola Profesional

CTA Image

Mulai investasi kripto yang #SemudahItu bersama NOBI Dana Kripto

Mulai Sekarang

Investasi kripto yang dikelola profesional tanpa ribet kelola wallet dan seed phrase sendiri. Risk Scoring Engine membantu memantau volatilitas dan pergerakan market setiap hari untuk keputusan investasi yang maksimal, sehingga kamu dapat berfokus pada kegiatan sehari-hari.

  • Portofolio terdiversifikasi Bitcoin (50%), Ethereum (30%), Solana (20%)
  • Dinyatakan lulus Regulatory Sandbox OJK (Surat OJK No. S-254/IK.01/2026)
  • Dilengkapi Risk Scoring Engine untuk memantau pasar 24 jam
  • Mulai dari Rp100.000

Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan hasil di masa mendatang.

Baca Juga

Laporan Kinerja NOBI Dana Kripto Indeks September 2026
NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A naik 10,14% di September 2026, NABDK capai Rp1.001,11 seiring arus masuk ETF spot Bitcoin. Simak laporannya.
NOBI Dana KriptoNOBI Editorial
Laporan Kinerja NOBI Dana Kripto Indeks September 2026
Laporan Kinerja NOBI Dana Kripto Indeks Agustus 2026
Sepanjang bulan Agustus 2026, NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A berhasil mempertahankan konsistensi nilai portofolio secara terukur.
NOBI Dana KriptoNOBI Editorial
Laporan Kinerja NOBI Dana Kripto Indeks Agustus 2026
Laporan Kinerja NOBI Dana Kripto Indeks Juli 2026
NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A tumbuh positif di Juli 2026. NABDK per Unit naik 0,76% jadi Rp908,72 dengan manajemen risiko solid.
NOBI Dana KriptoNOBI Editorial
Laporan Kinerja NOBI Dana Kripto Indeks Juli 2026

Disclaimer

Dokumen ini disusun untuk tujuan informasi semata dan tidak merupakan penawaran, ajakan, atau rekomendasi untuk membeli, menjual, atau memegang unit penyertaan NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan atau menjamin kinerja masa depan. Nilai Aset Bersih Dana Kripto (NABDK) dapat mengalami fluktuasi naik maupun turun akibat volatilitas harga Aset Kripto yang mendasarinya, dan investor berpotensi mengalami kerugian atas nilai investasi awal.

Berdasarkan Surat OJK No. S-254/IK.01/2026 tanggal 17 Juli 2026, PT Dana Kripto Indonesia dengan produk NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A ditetapkan Lulus sebagai Peserta Sandbox OJK. Calon investor disarankan untuk membaca prospektus/dokumen penawaran secara lengkap dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan independen sebelum mengambil keputusan investasi.


September 2026 Performance Report: NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A

Performance Summary

Throughout October 2026, NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A navigated challenging crypto market conditions. Early-month optimism, driven by weaker US jobs data and Citigroup’s upgraded Bitcoin price target, gradually faded amid spot Bitcoin ETF outflows, signals of further Fed rate hikes, and higher-than-expected US inflation. Pressure peaked at the end of the month when a security incident involving Binance’s hot wallets triggered a sell-off across global crypto markets. As a result, the Net Asset Value (NAV) per Crypto Unit declined 9.86% to Rp902.42 from Rp1,001.11 at the end of September. This decline was more contained than that of a buy & hold strategy, which fell 10.19%.

Market Dynamics Analysis

In the first week, US jobs data released on October 2 weakened sharply (just 29,000 new jobs vs. roughly 90,000 expected, with unemployment rising to 4.2%), cutting the odds of a Fed rate hike at the October meeting from about 70% to 15–20%, which lifted sentiment toward risk assets. On October 1, Citigroup also raised its 12-month BTC price target by 37.8% to US$113,000 (~Rp2 billion), citing stronger crypto market activity and the return of ETF inflows. BTC responded positively, closing at Rp1,530,487,000 on October 7.

In the second week, sentiment reversed: US spot BTC ETFs posted over US$700 million in outflows on October 7–8, including US$487.07 million on October 7, the largest since June 25. Minutes from the Fed’s September meeting showed most officials expecting one more rate hike before year-end, while long-dated US Treasury yields held at their highest in over two decades, weighing on risk assets. BTC closed at Rp1,465,380,000, down 4.25% week-on-week.

Moving into the third week, US September CPI, released on October 14, rose to 3.7% year-on-year (above the 3.6% expected), keeping further rate hikes on the table and pushing BTC down to as low as Rp1,435,965,000. Sentiment improved after BTC ETFs drew US$527 million in inflows on October 19, and BTC climbed as high as Rp1,524,523,000 on October 21 amid a tech-stock rally and a short squeeze.

In the final week, the rally faded as BTC consolidated ahead of the FOMC, briefly touching Rp1,444,500,000 before rebounding. The Fed held rates at 3.75–4.00% on October 28, with Chair Kevin Warsh giving no clear signal on a December hike. Early on October 30 (Jakarta time), an estimated US$5.6–5.9 billion was drained from Binance’s hot wallets, sending BTC down to Rp1,425,000,000. Tether and Circle froze over US$2.4 billion of it, and Binance pledged to cover all user losses. BTC continued to weaken, closing at Rp1,416,487,000 at the end of October, down 6.69% from the previous week’s close.

BTC/USD Monthly Technical Analysis

Based on the weekly (1W) market structure, Bitcoin's price action throughout October indicates a measured consolidation phase.

Structurally, Bitcoin is observed to be forming an ascending channel pattern, bounded by the two parallel red trendlines. Within this developing structure, price action remains predominantly sideways, reflecting a period of equilibrium between market buyers and sellers.

Bitcoin is currently positioned within a robust horizontal demand zone (highlighted by the grey rectangle around the $77,000 – $78,700 region). This area aligns closely with key Moving Averages (specifically the 20 MA at $77,052 and 50 MA at $78,584), providing a strong confluence of support capable of temporarily holding the current price level against immediate downside pressure.

Despite the current demand zone acting as a temporary buffer, downside risks remain present. Should selling pressure intensify and breach the immediate support level, there is still a probability for Bitcoin to retrace further toward the lower band trendline (aligning near the lower demand zone and the 200 MA around $67,779) to gather liquidity before attempting a broader upward continuation.

Disciplined Strategy Amid Volatility

Although the market was largely driven by external sentiment, active management based on quantitative trend signals still added value, outperforming the buy & hold strategy by 0.33 ppt. NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A consistently executed its allocation strategy without overreacting to short-term headline shocks, from macro data releases and the Fed minutes to the Binance incident. All fund assets are held with a custodian and traded through a licensed crypto asset trader in Indonesia, so the fund has no direct exposure to the incident. Going forward, NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A will continue to follow its trend signals in a measured way while monitoring the Fed’s policy direction ahead of the December 8–9 FOMC meeting, keeping the portfolio ready to capture opportunities when market momentum recovers.

Disclaimer

This document is prepared for informational purposes only and does not constitute an offer, solicitation, or recommendation to buy, sell, or hold units of NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A. Past performance is not indicative of, and does not guarantee, future performance. The Crypto Fund Net Asset Value (NABDK) may rise or fall due to volatility in the price of the underlying Crypto Assets, and investors may incur losses relative to their original investment.

Pursuant to OJK Letter No. S-254/IK.01/2026 dated July 17, 2026, PT Dana Kripto Indonesia, featuring its NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A product, has been declared to have successfully graduated as an OJK Regulatory Sandbox Participant. Prospective investors are advised to thoroughly read the prospectus or offering document and consult with an independent financial advisor prior to making any investment decision.


Tentang NOBI Dana Kripto

NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia. PT Dana Kripto Indonesia dinyatakan lulus dari Sandbox OJK berdasarkan surat OJK no. S-254/IK.01/2026.

Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.

Tag Artikel

#Laporan Kinerja
logo nobi dki

PT Dana Kripto Indonesia

Gedung Tatapuri Lantai 7 Unit 707, Jl. Tanjung Karang No. 3-4A, Kel. Kebon Melati, Kec. Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, 10230 halo@nobi.id +62 811 1007 7760

Investasi

Mulai InvestasiProduk KamiBerita Terbaru

Perusahaan

Tentang KamiKebijakan PrivasiSyarat dan KetentuanPernyataan Kebijakan SMKI

Dukungan

Hubungi Kami
Terdaftar di
KOMDIGI
Asosiasi Blockchain Indonesia
© 2026 PT Dana Kripto Indonesia. Semua hak dilindungi.
Calon pemegang Unit Kripto wajib memahami risiko yang terkait dengan investasi pada Aset Kripto, termasuk kemungkinan penurunan nilai investasi. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berinvestasi, calon pemegang Unit Kripto diharapkan untuk membaca dan memahami dengan baik isi dalam masing-masing Prospektus. Apabila perlu, calon pemegang Unit Kripto disarankan untuk meminta pendapat profesional sebelum mengambil keputusan berinvestasi. Kinerja historis tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Informasi mengenai kinerja masa lalu disediakan semata-mata untuk tujuan informatif dan ilustratif dan bukan merupakan suatu bentuk penawaran untuk membeli atau permintaan untuk menjual.