Western Union Luncurkan Stablecoin USDPT di Solana

Ringkasan
Western Union resmi meluncurkan stablecoin bernama USDPT di jaringan Solana untuk layanan pengiriman uang global.
Langkah ini mengikuti berlakunya GENIUS Act pada Juli lalu, regulasi AS yang membuka jalan bagi perusahaan remitansi mengadopsi stablecoin.
Western Union bukan satu-satunya: sejumlah perusahaan remitansi lain juga mengumumkan rencana serupa setelah regulasi tersebut disahkan.
Adopsi dari pemain tradisional sebesar Western Union memperkuat posisi Solana sebagai jaringan pilihan untuk transaksi stablecoin bervolume tinggi.
Western Union, perusahaan pengiriman uang yang sudah beroperasi lebih dari 170 tahun, resmi bergulir dengan stablecoin miliknya sendiri. USDPT, begitu namanya, dibangun di atas jaringan Solana dan dirancang untuk memperlancar transaksi lintas negara yang selama ini dikenal lambat dan mahal.
Ironisnya, justru di saat industri kripto masih berjuang membuktikan relevansinya kepada publik umum, perusahaan-perusahaan keuangan tradisional raksasa malah datang mengetuk pintu ekosistem ini satu per satu. Western Union bukan pelopor sendirian, tapi masuknya nama sebesar ini ke ranah stablecoin adalah sinyal yang sulit diabaikan.

Western Union Pilih Solana, Bukan Ethereum
Keputusan Western Union membangun USDPT di Solana bukan tanpa alasan. Solana dikenal dengan biaya transaksi yang sangat rendah dan kecepatan finalisasi yang jauh lebih tinggi dibanding jaringan lain, dua hal yang sangat krusial untuk bisnis remitansi yang memproses jutaan transaksi kecil setiap harinya.
Sebagai konteks, Ethereum, meski masih menjadi blockchain terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, kerap dikritik karena biaya gas yang fluktuatif dan throughput yang terbatas di lapisan dasarnya. Solana menawarkan throughput ribuan transaksi per detik dengan biaya yang bisa diabaikan, menjadikannya pilihan lebih logis untuk kasus penggunaan pembayaran massal.
Langkah ini juga memperkuat narasi bahwa Solana semakin serius dipertimbangkan oleh institusi keuangan, bukan hanya oleh komunitas kripto ritel.
Baca juga: [Solana vs Ethereum: Perang Blockchain untuk Adopsi Institusional](#)
GENIUS Act: Pintu yang Membuka Segalanya
Western Union bukan satu-satunya yang bergerak. Menurut laporan CoinTelegraph, sejumlah perusahaan remitansi lain juga mengumumkan rencana stablecoin setelah AS mengesahkan GENIUS Act pada Juli tahun lalu. Regulasi itu secara eksplisit menciptakan kerangka hukum bagi perusahaan non-bank untuk menerbitkan stablecoin yang di-peg ke dolar AS.
Ini bukan kebetulan. Selama bertahun-tahun, ketidakpastian regulasi menjadi penghalang terbesar bagi korporasi tradisional untuk masuk ke ekosistem kripto secara resmi. Begitu kepastian hukum itu hadir, giliran para eksekutif di perusahaan-perusahaan besar yang harus menjawab pertanyaan: mengapa tidak menggunakan teknologi ini?
Di sisi lain, di tingkat Senat AS saat ini pun diskusi soal regulasi stablecoin terus bergulir. Senators Alsobrooks dan Tillis baru saja menyelesaikan kompromi terkait ketentuan stablecoin yields dalam Clarity Act, meski kelompok perbankan masih menyatakan kesepakatan tersebut "belum cukup" dalam hal perlindungan deposito. Perdebatan ini menunjukkan bahwa kerangka regulasi stablecoin di AS masih terus dibentuk, dan setiap pergerakan regulasi akan berdampak langsung pada ekspansi pemain seperti Western Union.

Apa Artinya Bagi Pasar Kripto Saat Ini
Masuknya Western Union ke ekosistem stablecoin terjadi di tengah momentum pasar yang sedang membaik. Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran $80,851, naik sekitar 5,27% dalam tujuh hari terakhir. Harga ini masih berada sekitar 35,87% di bawah all-time high $126,080, tapi tren mingguannya menunjukkan tekanan beli yang mulai menguat kembali.
Ethereum, yang menjadi underlying salah satu produk NOBI, bergerak di $2,382 dengan range 24 jam antara $2,317 hingga $2,393. Meski secara harian ETH turun tipis 0,17%, kenaikan 3,99% dalam tujuh hari terakhir menunjukkan pasar altcoin ikut merespons sentimen positif yang lebih luas. ETH sendiri masih sekitar 51,85% di bawah all-time high-nya di $4,946, yang bagi sebagian analis berarti ruang pemulihan masih cukup terbuka.
Yang menarik: berita-berita seperti peluncuran USDPT oleh Western Union bukan penggerak harga jangka pendek, tapi berkontribusi pada narasi adopsi jangka panjang yang membuat modal institusional terus mengalir ke ekosistem kripto. Semakin banyak pemain legacy yang masuk, semakin kuat argumen bahwa kripto bukan hanya aset spekulatif, tapi infrastruktur keuangan masa depan.
Kripto Berkembang Cepat, Kamu Nggak Harus Ikutin Semuanya
Western Union masuk ke Solana, Clarity Act masih diperdebatkan di Senat, harga Bitcoin naik turun di kisaran $80,000. Banyak yang terjadi dalam satu hari, dan wajar kalau kepala mulai penuh.
Makanya NOBI Dana Kripto ada: biar kamu tetap bisa punya eksposur ke Bitcoin, Ethereum, dan Solana, tanpa harus memantau setiap berita dan setiap pergerakan harga. Tim NOBI yang jaga, kamu yang tenang.
Mulai investasi kripto yang #SemudahItu bersama NOBI Dana Kripto
Baca Juga
- [GENIUS Act Disahkan: Ini Dampaknya untuk Stablecoin dan Pasar Kripto](#)
- [Solana Makin Diminati Institusi: Apa yang Mendorong Tren Ini?](#)
- [Stablecoin vs Reksa Dana Kripto: Mana yang Cocok untuk Investor Indonesia?](#)
Manajer Dana Kripto melakukan kegiatan usahanya sebagai bagian dari uji coba regulatory sandbox yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Simulasi performa berdasarkan data historis dan tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi mengandung risiko. Calon Pemegang Unit Kripto wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum berinvestasi.
Tentang NOBI Dana Kripto
NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia, peserta Sandbox OJK dengan nomor surat OJK S-196/IK.01/2025.
Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.
Tag Artikel
