NOBI Dana Kripto Kenalkan Produk Investasi Kripto Tahan Volatilitas di Coinfest Asia 2026

Bali — NOBI Dana Kripto memperkenalkan diri di panggung Coinfest Asia 2026, tampil sebagai satu-satunya Manajer Dana Kripto di Indonesia yang lulus Regulatory Sandbox Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam pagelaran yang digelar pada 20-21 Agustus 2026 di Pantai Melasti, Bali, fokus yang dibawa bukan tren pasar, melainkan perjalanan bagaimana membangun produk investasi kripto yang risikonya tetap terjaga saat market bergejolak.
NOBI tampil di dua sesi, yaitu Meet the OJK Sandbox Graduates dan Builders Who Ship. Vidy Onadi, Direktur PT Dana Kripto Indonesia, membagikan pengalaman membangun NOBI Dana Kripto dari nol hingga lolos seleksi ketat regulator di OJK Regulatory Sandbox.
Dibangun untuk Gelombang Investor yang Berbeda

Vidy membuka dengan satu premis: produk ini tidak dibuat untuk orang-orang yang sudah akrab dengan kripto. Dalam lima tahun terakhir, jumlah pemegang kripto di Indonesia melonjak dari 11,2 juta menjadi 22,4 juta orang, dan gelombang investor berikutnya punya karakter yang jauh berbeda.
Mereka umumnya investor jangka panjang yang ingin punya eksposur ke kripto, bukan menghabiskan hari memantau grafik. Banyak dari mereka juga tidak ingin repot mengurus dompet digital atau menyimpan seed phrase sendiri, dan hanya mau berinvestasi di produk yang diawasi regulator serta dikelola secara profesional.
Di titik itulah NOBI Dana Kripto hadir, menawarkan eksposur ke aset kripto tanpa perlu direpotkan urusan menyimpan dan mengamankan asetnya sendiri. Selama masa Sandbox, NOBI mencatat tingkat retensi 95% dan kepuasan 97,9%, tanpa ada satu pun dari investor yang perlu mengurus seed phrase atau wallet sendiri.

Upside Sudah Terbukti, Manajemen Risiko yang Justru Langka

Menurut Vidy, potensi imbal hasil kripto sebenarnya sudah terbukti. Persoalan yang justru perlu dijawab sebuah produk adalah bagaimana melindungi investor ketika pasar berbalik arah.
"Kalau soal upside, kripto sudah terbukti menjadi salah satu aset dengan performa terbaik sepanjang masa. Yang justru jadi pekerjaan rumah adalah bagaimana saat market turun, risikonya tetap terjaga," jelas Vidy.
Dalam paparannya, NOBI menekankan bahwa yang paling sering membuat bangkrut investor ritel bukan absennya imbal hasil, melainkan dalamnya penurunan. Sepanjang sejarahnya, strategi buy & hold kripto pernah membuat investor menghadapi penurunan hingga sekitar 86%, dan tidak banyak yang sanggup bertahan secara psikologis. Mereka cenderung menjual di titik terbawah, sehingga grafik imbal hasil jangka panjang menjadi tidak relevan bagi mereka secara pribadi.
Karena itu, strategi NOBI tidak berfokus mengejar imbal hasil semata, tetapi mulai fokus mengelola risiko saat market mengalami penurunan. Pendekatan itulah yang membedakan produk terkelola dari membeli dan mengelola aset kripto sendiri.
Risk Scoring Engine, Senjata Utama Membaca Tren Pasar
Untuk menjalankan pendekatan itu, NOBI mengembangkan Risk Scoring Engine. Strategi ini bekerja dengan aturan yang sama setiap hari, dan setiap keputusannya tercatat.
Cara kerjanya bertumpu pada sinyal yang terukur, yaitu tren harga, volatilitas, dan likuiditas pasar, yang seluruhnya dihitung secara matematis tanpa sentimen atau tebakan. Dari sinyal itu, sistem menentukan seberapa besar eksposur aset kripto yang perlu dibawa, lalu menguranginya dan berputar ke aset yang lebih stabil ketika tren melemah.
Eksekusinya dilakukan bertahap dengan cara Dollar Cost Averaging, baik saat masuk maupun keluar, sehingga keputusan tidak pernah bergantung pada satu waktu atau satu harga. Yang tidak kalah penting, seluruh prosesnya berbasis aturan, terekam, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada investor dan pengawas.
Berdasarkan simulasi historis periode 2021 sampai 2025, pendekatan ini mencatat kurang lebih dua kali imbal hasil strategi buy & hold dengan sekitar separuh tingkat drawdown-nya. Angka ini bersifat ilustratif dan tidak menjamin hasil di masa depan.

Teruji di Dua Crash Nyata, di Bawah Pengawasan Regulator

Yang membuat cerita ini berbeda, Risk Scoring Engine bukan sekadar konsep di atas kertas. Sistem ini sudah diuji langsung oleh dua penurunan ekstrem pasar kripto, dan keduanya terjadi saat NOBI sudah beroperasi di dalam sandbox OJK, dengan investor nyata, dana nyata, dan drawdown yang dilaporkan ke regulator.
Ujian pertama adalah flash crash "10.10" pada Oktober 2025, yang dipicu ancaman tarif 100% dari Amerika Serikat ke China dan tercatat sebagai salah satu likuidasi terbesar dalam sejarah pasar kripto. Dihitung dari puncak 7 Oktober hingga titik terendah 17 Oktober, NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A hanya turun 9,89%, sementara strategi buy & hold turun 18,30%. Pada periode yang sama, Bitcoin turun 14,72%, Ethereum 20,05%, dan Solana 22,99%, sehingga penurunan NOBI kurang lebih separuh dari buy & hold.
Ujian kedua datang saat koreksi pasar pada kuartal pertama 2026. Pada titik terendah 24 Februari 2026, NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A turun 6,68%, sementara buy & hold rata-rata turun 39,77%. Bitcoin turun 34,49%, Ethereum 45,05%, dan Solana 46,90%. Dengan kata lain, saat pasar terperosok hingga sekitar 40%, portofolio NOBI hanya bergerak di kisaran 7%.
Vidy memaparkan bahwa Risk Scoring Engine NOBI mulai mengambil posisi defensif sejak 23 Januari 2026 dan berpindah ke posisi tunai penuh (full cash) pada Februari, sehingga portofolio terhindar dari penurunan tajam saat itu.
"Kinerja ini menunjukkan strategi kami bekerja di berbagai kondisi pasar, bukan hanya saat tren naik, tetapi juga saat market terkoreksi," tambah Vidy.

Adopsi Institusi Tinggi, Didukung Regulator yang Aktif
Salah satu hal yang paling terasa di Coinfest Asia 2026 adalah makin besarnya adopsi institusi terhadap aset kripto. Kripto kini makin serius dilirik institusi keuangan, dan produk yang ditawarkan pun makin beragam. Kategori aset dunia nyata (Real World Assets/RWA) terus bermunculan, sementara tokenisasi berbagai aset juga berlangsung makin masif.
Yang membuatnya makin meyakinkan, pertumbuhan ini dibarengi dukungan regulator yang aktif menyediakan wadah bagi inovasi, salah satunya melalui Regulatory Sandbox OJK. Kombinasi antara adopsi institusi yang menguat dan keberpihakan regulator menjadi sinyal positif bahwa industri aset kripto Indonesia dapat terus bertumbuh ke depan.
Mulai investasi kripto yang #SemudahItu bersama NOBI Dana Kripto
Tentang NOBI Dana Kripto
NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia, telah dinyatakan lulus Sandbox OJK dengan nomor surat OJK S-254/IK.01/2025.
Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.
