Clarity Act Terancam Gagal: Trump Tolak Tanda Tangan karena Klausul Larangan CBDC

Ringkasan: Presiden Donald Trump membatalkan upacara penandatanganan UU perumahan bipartisan pada 24 Juni 2026 yang di dalamnya memuat larangan empat tahun penerbitan CBDC oleh Federal Reserve. Trump menuntut Kongres meloloskan SAVE America Act terlebih dulu, UU voter-ID yang sudah ditolak Senat 48-50 pada 4 Juni. Kebuntuan ini memakan waktu legislasi yang tersisa untuk Digital Asset Market Clarity Act, yang hanya punya sekitar lima minggu sebelum reses Senat. Peluang lolosnya Clarity Act di 2026 anjlok dari 74% menjadi 42% berdasarkan data Polymarket.
Apa yang Terjadi?
Pada 24 Juni 2026, Trump memposting di Truth Social bahwa upacara penandatanganan 21st Century ROAD to Housing Act "dengan ini dibatalkan sampai kita berhasil meloloskan SAVE AMERICA ACT yang sangat dibutuhkan, yang saya anggap sebagai Darurat Nasional."
UU perumahan bipartisan itu bukan UU biasa bagi industri kripto. Di dalamnya tersimpan klausul yang melarang Federal Reserve menerbitkan, menciptakan, atau mendistribusikan Central Bank Digital Currency (CBDC) dalam bentuk apapun hingga 31 Desember 2030.
UU tersebut lolos dengan margin yang sangat besar: 85 banding 5 di Senat dan 358 banding 32 di DPR. Margin ini melampaui ambang dua per tiga yang dibutuhkan untuk mengesampingkan veto presiden.
Menurut laporan CoinDesk, tuntutan Trump adalah lolosnya SAVE America Act, UU yang mewajibkan pemilih menunjukkan bukti kewarganegaraan. Masalahnya: Senat sudah menolak UU itu dengan suara 48 banding 50 pada 4 Juni 2026.
House Speaker Mike Johnson membela langkah Trump. Menurut Johnson, sebagaimana dikutip Cryptopolitan, presiden hanya menggunakan "sedikit lebih banyak" dari waktu yang dimilikinya sebelum UU harus ditandatangani, dan ia memperkirakan Trump akan menandatangani dalam periode konstitusional 10 hari.
Kenapa Clarity Act yang Jadi Korban?
Larangan CBDC sendiri hampir pasti tetap berlaku. Konstitusi AS menetapkan bahwa RUU menjadi undang-undang secara otomatis setelah 10 hari (di luar hari Minggu) jika presiden tidak menandatangani dan tidak memveto, selama Kongres masih bersidang.
Korban sesungguhnya adalah Digital Asset Market Clarity Act.
Clarity Act adalah regulasi struktur pasar aset digital yang akan mendefinisikan pembagian yurisdiksi antara SEC dan CFTC, kerangka yang ditunggu industri kripto AS selama bertahun-tahun. RUU ini sudah masuk Kalender Senat sebagai Nomor 423 setelah lolos Komite Perbankan Senat dengan suara 15 banding 9 pada 14 Mei 2026.
Masalahnya ada di kalender. Senat hanya memiliki sekitar lima minggu sebelum reses musim panas, dan Gedung Putih sebelumnya menargetkan 4 Juli sebagai deadline Clarity Act.
Seorang analis Stifel, sebagaimana dikutip TFTC, menyatakan RUU ini "harus lolos Senat paling lambat akhir Juli, sebaiknya Juni." Setiap pekan yang dihabiskan untuk kebuntuan CBDC vs SAVE Act adalah pekan yang dipotong dari jendela yang tersisa.
Pasar prediksi langsung merespons: odds lolosnya Clarity Act di 2026 pada platform Polymarket anjlok dari sekitar 74% menjadi 42%.

CBDC vs Stablecoin: Beda yang Wajib Dipahami Investor
Kebingungan yang sering muncul adalah antara CBDC dan stablecoin. Keduanya digital, tapi strukturnya fundamental berbeda.
| Aspek | CBDC | Stablecoin (USDC, USDT) |
|---|---|---|
| Penerbit | Bank sentral (Federal Reserve) | Perusahaan swasta |
| Pencatatan | Ledger yang dikontrol pemerintah | Distributed ledger publik |
| Visibilitas transaksi | Real-time untuk otoritas penerbit | Pseudonim di blockchain |
| Status di UU perumahan | Dilarang hingga 2030 | Dilindungi eksplisit |
CBDC adalah kewajiban langsung bank sentral yang tercatat di buku besar yang dikontrol pemerintah, dengan visibilitas penuh atas setiap transaksi individual secara real-time. Inilah kekhawatiran privasi utama yang mendorong klausul larangan ini didukung lintas partai.
UU perumahan yang ditahan Trump justru secara eksplisit melindungi stablecoin yang bersifat "terbuka, tanpa izin, dan privat", meninggalkan pasar stablecoin senilai lebih dari USD 316 miliar tetap beroperasi.

Perspektif Kami: Kepastian Regulasi Domestik Jadi Semakin Berharga
Sebagai Manajer Dana Kripto yang memantau perkembangan regulasi global setiap hari, kami melihat episode ini sebagai pengingat bahwa kepastian regulasi di AS masih rapuh terhadap dinamika politik yang tidak ada hubungannya dengan aset digital itu sendiri. Sebuah UU voter-ID yang gagal di Senat kini menyandera dua regulasi kripto sekaligus.
Bagi pasar, ketidakpastian ini memiliki efek nyata: salah satu katalis naik yang paling diantisipasi kehilangan kepastian waktunya. Namun penting untuk memisahkan kerangka hukum yang tertunda dari fundamental ekosistem yang terus berjalan. Bitcoin tetap memproses transaksi, Ethereum dan Solana tetap menjadi infrastruktur ribuan aplikasi, dengan atau tanpa Clarity Act.
Di Indonesia, kerangka regulasi justru sudah lebih pasti. Pengawasan aset kripto berada penuh di bawah OJK berdasarkan UU P2SK No. 4 Tahun 2023, dan produk seperti dana kripto sudah beroperasi dalam kerangka resmi melalui Regulatory Sandbox. Investor Indonesia yang memilih produk teregulasi domestik mendapat lapisan kepastian yang tidak bergantung pada dinamika politik Washington.
Pandangan kami: Clarity Act kemungkinan besar tetap lolos, pertanyaannya hanya 2026 atau 2027. Bagi investor jangka panjang, delay legislatif seperti ini adalah noise, bukan perubahan fundamental. Yang berubah hanyalah timing katalis, bukan arah adopsi institusional yang sudah berjalan.
NOBI Dana Kripto: Investasi Kripto dalam Kerangka Resmi OJK
Ketidakpastian regulasi di luar negeri adalah salah satu alasan memilih produk yang jelas status regulasinya di dalam negeri. NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A dikelola oleh Manajer Dana Kripto profesional dan beroperasi sebagai peserta Regulatory Sandbox OJK.
- Beroperasi dalam kerangka resmi OJK (Surat OJK No. S-196/IK.01/2025)
- Portofolio Bitcoin (50%), Ethereum (30%), Solana (20%)
- Aset disimpan kustodian institusional dengan teknologi air-gapped cold storage
- Mulai dari Rp100.000, beli dan jual kapan saja
Mulai investasi kripto yang #SemudahItu bersama NOBI Dana Kripto
Manajer Dana Kripto melakukan kegiatan usahanya sebagai bagian dari uji coba regulatory sandbox yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Simulasi performa berdasarkan data historis dan tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi mengandung risiko. Calon Pemegang Unit Kripto wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum berinvestasi.
FAQ
Apa itu Clarity Act?
Digital Asset Market Clarity Act adalah RUU struktur pasar aset digital AS yang mendefinisikan pembagian yurisdiksi pengawasan antara SEC dan CFTC. RUU ini lolos Komite Perbankan Senat 15-9 pada 14 Mei 2026 dan masuk Kalender Senat sebagai Nomor 423, tapi masih membutuhkan floor vote sebelum reses musim panas.
Apa itu CBDC dan kenapa dilarang?
CBDC (Central Bank Digital Currency) adalah mata uang digital yang diterbitkan langsung oleh bank sentral. Klausul dalam UU perumahan AS melarang Federal Reserve menerbitkannya hingga 31 Desember 2030, terutama karena kekhawatiran privasi: CBDC memberi otoritas penerbit visibilitas penuh atas transaksi individual secara real-time.
Apakah larangan CBDC tetap berlaku meski Trump tidak tanda tangan?
Kemungkinan besar ya. Konstitusi AS menetapkan RUU menjadi undang-undang otomatis setelah 10 hari tanpa tanda tangan presiden selama Kongres bersidang. UU ini juga lolos dengan margin yang melampaui ambang veto override di kedua kamar.
Apa dampak kebuntuan ini untuk investor kripto Indonesia?
Dampak langsungnya minimal karena regulasi kripto Indonesia berjalan independen di bawah OJK. Dampak tidak langsungnya adalah sentimen pasar global: tertundanya Clarity Act menunda salah satu katalis positif yang diantisipasi pasar. Investor yang menggunakan dana kripto teregulasi OJK mendapat kepastian regulasi domestik terlepas dari dinamika AS.
Tentang NOBI Dana Kripto
NOBI Dana Kripto adalah produk manajemen aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diluncurkan oleh PT Dana Kripto Indonesia, peserta Sandbox OJK dengan nomor surat OJK S-196/IK.01/2025.
Produk ini memberikan akses bagi investor untuk berinvestasi di aset kripto dengan cara yang mudah, aman, dan teregulasi, lewat satu produk indeks kripto. Portofolio NOBI Dana Kripto Indeks Kelas A difokuskan pada aset kripto utama yaitu Bitcoin, Ethereum, dan Solana, menjadikannya pilihan tepat bagi investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah maupun panjang.
Tag Artikel
